Pernah dengar pernyataan yang bunyinya seperti, perempuan tidak mendukung perempuan lain. Yaaa, itu ada. Dalam realitas yang terpaku pada struktur patriarki, banyak sekali perempuan yang terjebak dalam pola perlombaan atau kompetisi. Lebih senang menghakimi, mencari keburukan satu sama lain, hingga usaha menghancurkan. Fenomena tersebut bukan konflik antar individu semata, karena dari situlah termanifestasikan suatu persoalan yang lebih berbahaya, yakni internalized misogyny. Diartikan sebagai suatu fenomena kebencian terhadap sesama perempuan yang tertanam dalam diri perempuan itu sendiri. Dan tentu, ini merupakan hasil dari patriarki.
Fenomena internalized misogyny lahir atas dampak secara langsung dari ketimpangan gender yang bertahun-tahun mengakar kuat di kalangan masyarakat. Dalam beberapa kasus, proses ini tidak melibatkan adanya perundungan atau diskriminasi laki-laki, melainkan murni dari sesama perempuan. Mereka kerap tanpa sadar menilai, menghakimi, hingga menindas perempuan lain berdasarkan pola patriarkal. Dari berbagai situasi, perempuan mendapati tekanan untuk memenuhi standar yang dipatenkan oleh sistem, yang sebetulnya tidak sekedar merugikan, melainkan menumbuhkan perasaan kompetitif antar mereka. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perempuan-perempuan yang terjebak dalam pemikiran tersebut. Karena mereka adalah hasil dari sistem yang terus menerus melanggengkan.
Mengenal Internalized Misogyny
Istilah internalized misogyny diartikan sebagai sebuah tindakan atau fenomena ketika ada perempuan secara tidak sadar memproyeksikan ide-ide seksis ke perempuan lain, bahkan ke diri mereka sendiri. Yang menjadi dasar munculnya adalah disebabkan oleh perempuan-perempuan yang membutuhkan validasi dari orang lain, bahwa dirinya lebih unggul, hebat atau unik dari perempuan lainnya. Mereka tidak sekedar terbentuk dari perbuatan individu sendiri, melainkan hasil dari konstruksi sosial sekitar.
Meskipun baru populer beberapa dekade belakang, munculnya istilah internalized misogyny mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang. Pada abad pertengahan hingga modern awal, perempuan selalu diposisikan sebagai manusia domestik yang dilatih untuk tunduk serta merasa bersalah atas pilihan maupun keinginan sendiri. Ketika akhirnya kapitalisme berkembang, timbullah konstruksi lain yang memisahkan ruang publik (untuk laki-laki) sedang ruang privat (untuk perempuan), yang mana semakin menguatkan pandangan bahwa perempuan hanya akan bernilai apabila ia patuh dan mampu melayani.
Hingga pada abad ke-20, budaya populer dan media turut mengejawantahkannya dengan menerapkan standar kecantikan yang sempit. Membuat perempuan menilai diri dan sesamanya dengan amat keras. Meskipun pada saat itu gerakan feminism telah berkembang, internalized misogyny tetap tumbuh dalam bentuk lain. Seperti, saling merendahkan satu sama lain, saling menghancurkan hanya untuk validasi laki-laki.
Konstruksi Sosial Internalized Misogyny
Sejak kecil, lingkungan sudah mendikte perempuan untuk saling bersaing, menilai diri dengan kaca mata laki-laki, dan untuk merasa bahwa pencapaian perempuan ditentukan oleh pandangan masyarakat. Yakni terhadap tubuh, peran dalam keluarga, bahkan pilihan karir. Barangkali di sekitar kita beberapa orang terbiasa melihat perempuan menjatuhkan satu sama lain, yang mana semua itu merupakan cerminan dari budaya partiarkal yang telah menginternalisasi persaingan hingga penghakiman dalam relasi antar perempuan. Pola ini tidak hanya menempatkan perempuan pada posisi subordinat dari laki-laki, tetapi juga mengilhami perempuan untuk saling bersaing mendapatkan validasi dari standar yang telah dibentuk dari kekuasaan maskulin.
Bahkan, pada beberapa kasus misalnya ketika ada satu perempuan melangkah lebih maju, dilihat sebagai inspirasi maupun pelopor, ia kerap disorot sebagai ancaman. Dalam logika patriarki, perempuan yang mampu saling mendukung akan lahir sebagai kekuatan yang membahayakan status quo. Sehingga itulah sebabnya, perempuan didikte menjadi pengawas satu sama lain, bahkan tanpa disadari telah menjelma sebagai bagian dari sistem yang menindas perempuan itu sendiri. Perempuan yang merasa dirinya lebih unggul atau lebih “benar” sering kali menolak untuk mendukung sesama perempuan yang tidak sesuai dengan gambaran mereka tentang “perempuan ideal”Bottom of Form.
Ini tercermin dalam berbagai bentuk, mulai dari saling menghakimi pilihan hidup pribadi, sampai-sampai kecenderungan menyudutkan perempuan lain yang dianggap tidak memenuhi standar sosial tertentu. Misalnya di media sosial, kita kerap kali melihat perempuan yang mengkritik penampilan atau pilihan hidup orang lain, tanpa menyadari bahwa mereka tengah memperkuat stereotip dan mengulang pola diskriminasi yang sama.
Namun, di sisi lain, tidak bisa dipungkiri kita tetap bisa menemukan solidaritas kuat antar perempuan. Kita hanya perlu melihat sejarah perjuangan perempuan, di mana gerakan perempuan telah menjadi mercusuar perubahan yang signifikan. Sejarah mencatat bahwa perjuangan perempuan untuk hak suara, hak atas pendidikan, hak kerja, dan kesetaraan gender tidak akan tercapai tanpa adanya kerjasama dan dukungan antar sesama perempuan.
Merajut Kembali Perempuan
Menyatukan tujuan atau visi yang sempat rusak tentu membutuhkan kerja keras. Melawan internalized misogyny membutuhkan solidaritas antar perempuan yang bukan sekedar mendukung, tetapi memandang keberagaman perempuan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Solidaritas ini harus mencakup segala aspek kehidupan, dari perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga, perempuan yang berkarier, perempuan yang memilih menikah hingga perempuan yang memilih tidak menikah.
Tapi jauh daripada itu, satu hal mendasar yang perlu dilakukan oleh setiap perempuan adalah menerima diri sendiri. Menerima diri sendiri sama dengan mengakui bahwa kita layak dihargai bahkan sebelum ‘sempurna’. Tidak perlu lagi melihat keindahan orang lain untuk mengukur keindahan diri kita sendiri. Manusia hanya perlu jujur menjadi dirinya dengan segala keberanian dan kerentanannya.
Sehingga, kita bisa lebih mudah juga menerima orang lain. Karena sejatinya, kekuatan perempuan terletak pada kemampuannya untuk saling mendukun. Ketika perempuan menyadari mereka memiliki kekuatan untuk berubah maka potensi perubahan sosial yang besar akan lebih cepat tercapai.
Oleh : Iefone Shiflana Habiba (Ketua Bidang Immawati DPD IMM DIY)